“Bu, Iqbal jelek ya?”
Pertanyaan itu dilontarkan anak saya pada suatu sore ketika saya sedang duduk selepas shalat dengan mata merah, siap menangis. Saya tanyakan padanya, apakah ada yang mengatakan dia jelek?
Dia bilang, katanya Iqbal gendut, hitam dan ndak sehat? Dan itu perkataan yang selalu berulang-ulang sehingga tertanam dalam otaknya bahwa dia jelek.
Saya bertanya, apa yang salah dengan hitam? Saya bercerita pada Iqbal, ada kawan Ibu yang hitam dan dia seorang Doktor, seorang dosen yang pintar. Banyak kawannya, karena dia baik.
Apa yang salah dengan gemuk? Apakah selamanya gemuk tidak sehat? Saya tanya Iqbal, Iqbal bisa berlari kencang? Iqbal bisa bermain bebas dengan kawan-kawan? Dia jawab bisa, itu berarti Iqbal masih sehat, kata saya.
Duhai…..
Saya jadi ingat, belasan tahun silam saya berjuang juga seperti Iqbal. Bagi sebagian orang “hanya ucapan gendut” yang berulang-ulang tidak masalah. Tapi bagi kami, saya dan Iqbal, menjadi sangat bermasalah. Kami menjadi pribadi yang insecure, tidak percaya diri.
Seandainya orang-orang tahu apa yang saya alami belasan tahun silam, sungguh sangat berat perjuangan saya untuk menjadi pribadi seperti ini. Ingatan saya kembali ke masa SMP, ketika saya mulai mengalami masalah berat badan.
Setiap saat mendengar ungkapan kok gemuk? Ndak diet ya? Jadi momok buat saya. Saya menjadi pribadi tertutup. Tidak bebas bergaul. Apalagi kemudian orang lebih senang bergaul dengan yang bertubuh ideal ketimbang kami yang gemuk. Saya seolah menjadi bahan lelucon. Orang gemuk identik dengan lelucon. Dalam benak saya, kenapa mereka tidak mau berteman hanya karena saya gemuk.
Beruntung saya mempunyai Bapak dan ibu yang tidak latah ikut-ikutan menagatakan betapa gemuknya saya. Ibu memberi contoh saya, bila ingin mengurangi gemuk, saya berolah raga. Ibu saya bahkan ikut senam bersama dengan ibu-ibu perumahan. Saya pun diajak. Ibu saya mengajarkan puasa Senin-Kamis agar pola makan saya teratur.
Bapak tidak pernah mengatakan betapa gemuknya saya. Tapi beliau tidak malu mengajak saya ke acara olah raga karyawan setiap hari minggu. Atau juga mengatar saya latihan bela diri di kantor beliau.
Semua dilakukan mereka semata-mata agar saya percaya diri dengan kondisi apapun saya, dengan memberi contoh tanpa mencela.
Bapak selalu mengatakan, kekurangan saya memang di fisik, tapi saya harus membuktikan bahwa saya bisa diterima dengan kelebihan saya lainnya. Bukankah manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan? Berdasarkan kesadaran inilah, saya memutuskan harus memutus rantai ketidakpedean saya ini dengan pindah ke tempat baru yang orang lain belum mengenal saya sebelumnya. Akhirnya dengan berat hati ketika itu, ibu dan bapak mengijinkan saya pindah tanpa didampingi mereka.
Di tempat baru ini, saya mulai belajar banyak hal. Bersyukur saya bertemu kawan-kawan yang menguatkan saya dan menerima dengan kegemukan saya ini. Walaupun saya belum bisa bergaul seluwes mereka, tapi minimal saya mulai mengenal banyak orang. Saya mulai diajarkan penerimaan diri.
Inilah inti dari keluar zona ketidaknyamanan saya selama ini. Dicibir, dijadikan bahan tertawaan. Saya belajar menerima kekurangan saya, dan ingin orang tahu kelebihan saya. Menjadi orang yang pernah di posisi sangat tidak nyaman, membuat saya akan berpikir Ketika saya beberpendapat mengenai fisik orang lain.
Itulah yang saya sampaikan kepada anak saya, “apakah adik melihat orang yang bicara tadi sehat juga? Iqbal menjawab tidak tahu. Saya tanyakan pada anak saya. “apa yang membuat adik tidak suka dikatakan gemuk, hitam dll?”
Iqbal menjawab, “Iqbal merasa menjadi orang paling jelek.”
Saya tanyakan kembali, “apakah Iqbal jelek?”
Iqbal menjawab dengan pertanyaan, “Ibu lihat Iqbal jelek ndak?”
“Tidak, Ibu melihat Iqbal ganteng. Karena Allah menciptakan semua dengan sempurna”.
Belajar dari itu, seharusnya kita sebagai orang tua, harus memberi contoh kepada anak-anak kita untuk senantiasa berkata hal-hal yang baik, bahkan walau itu hanya bermaksud bercanda, bukan malah mencela. Perkataan sepele, bagi kita belum tentu untuk orang lain. Dan saya adalah contohnya. Merasakan beratnya selalu dikatakan gemuk. (Lande)
