Hari Sabtu, bagi saya adalah hari belanja nasional. Hanya akhir pekan saya ketemu dengan bakul sayur yang lewat perumahan. Namanya, kalau ndak salah ingat, Mas Heri. Agak-agak lupa saya, dulu ibu-ibu pernah menyebutkan namanya, cuma saya tidak begitu ingat. Akhir-akhir ini saya jarang belanja, jadi jarang berinteraksi dengan kang sayur ini.

Setelah sekian lama, akhirnya saya beberapa waktu lalu bisa bersua dengan Kang sayur ini. Selalu menyenangkan bergaul dengan ibu-ibu sambil berbelanja. Jangan dibayangkan kami bergosip seperti dalam sinetron-sinetron kita.

Isinya lebih banyak keluhan. Ada yang mengeluh kakinya sakit, karena pengapuran, ada yang mengeluh nyari singkong kok susah dll. Tapi lebih seru mendengar Ketika ibu-ibu ini menggoda Kang sayurnya, karena selalu menjadi lelaki sendiri kala buibu berkumpul.

Apa saja akan menjadi bahan untuk menggoda mas nya ini. Seperti hari itu, seorang ibu sepuh bertanya apakah hari Minggu akan muter, karena seringnya dia libur istirahat. Di lura dugaan ternyata Kang Sayur kan tetap jualan hari Minggu, karena Senin dia akan libur.

“Saya mau ke Semarang” katanya.
“Mau healing mas?” tanya saya.
”Ora mbak, mau antar anak ke sana karena mau Opspek hari pertama:
“Keterima Dimana mas?” tanya saya lagi.
“UIN Semarang mbak” jawabnya

Sungguh, luar biasa. Saya sangat kagum dengan semangat Kang Sayur ini yang selalu ingin anaknya bersekolah setinggi-tingginya. Dia bercerita, ternyata anaknya yang pertama sudah bekerja di sebuah Perusahaan BUMN di Jakarta dan merupakan lulusan UGM Teknik Arsitektur. Lebih kagum lagi, ternyata anak ini bukanlah anak kandungnya, tapi dia bertekad untuk menyekolahkan setinggi-tingginya, padahal kondisi ekonominya sangat terbatas.

Sebelum berjualan sayuran dirinya adalah pedagang mainan di Kota Semarang. Dengan kondisi ini, dirinya nekad mempersunting seorang Perempuan dengan 1 anak dari keluarga yang berada. Dalam dirinya ada satu keyakinan, apapun kondisinya akan bisa menghidupi istri dan anak-anaknya. Alhamdulillah, dia membuktikan dalam kurun 3 tahun bisa membalik keadaan, bisa membuatkan rumah untuk anak istrinya dan sekaligus membeli kendaraan roda 4.

Dirinya kemudian memutar haluan menjadi pedagang sayuran. Pelan-pelan ekonominya semakin membaik, seiring dengan bertambah anaknya. O, ya selain anak-anaknya sendiri, dia ternyata juga menyekolahkan keponakannya, anak dari adiknya.

Hebatnya, anak-anak yang diasuhnya bersekolah di perguruan tinggi negeri di Semarang dan Yogyakarta. Dia mengatakan, sekarang dirinya menikmati hasil perjuangannya selama ini. Anak pertama hidup di Jakarta, dan menyokong kedua orang tuanya. Keponakannya juga telah lulus dari perguruan tinggi negeri Semarang.

Saya bertanya, amalan apa yang dia lakukan untuk melancarkan semua ini? Dijawab, setiap Jumat dia selalu membagikan sayuran gratis dan juga menjadi penyumbang tetap di beberapa panti asuhan. Sungguh sangat luar biasa, pelajaran dari Kang Sayur ini. (Lande)